Berbicara mengenai filsafat
itu tidak akan pernah ada habisnya. Di dalam filsafat tidak ada pangkal dan
tidak ada ujung. Di dalam filsafat tidak ada yang tidak mungkin, di dalam
filsafat selalu berbicara mengenai yang ada dan yang mungkin ada. Mengapa bisa
demikian? Untuk menjawab pertanyaan ini, kita dapat menjawab terlebih dahulu
“Apa itu filsafat?”, “Mengapa harus ada filsafat?”. Seperti yang telah kita
ketahui, bahwa filsafat merupakan ilmu olah pikir, studi tentang
fenomena-fenomena yang terjadi dalam kehidupan kita. Filsafat tidak bisa kita
dapatkan dari eksperimen atau percobaan, karena filsafat itu sifatnya murni,
tidak dibuat-buat, tidak ada yang mampu membuat filsafat. Filsafat akan datang
dengan sendirinya. Untuk menjawab “Mengapa harus ada filsafat?”, kita dapat
menanayakan kembali “Mengapa harus ada pikiran?”. Mengapa demikian? Karena
filsafat merupakan olah pikir manusia, maka filsafat itu pasti ada dalam diri
kita. Tidak lain dan tidak bukan filsafat itu adalah “Diriku, Dirimu, Diri
Kita”, itu filsafat. Sehingga filsafat tidak dapat dihilangkan atau dihapuskan
dalam diri kita.
Filsafat akan selalu
menembus ruang dan waktu, sehingga filsafat itu akan bersifat relatif, tidak
ada tolok ukur mengenai semua hal yang terjadi dalam kehidupan kita. Tidak ada
yang dapat membenarkan dan menyalahkan semua hal yang ada dan yang mungkin ada.
Semua bergantung bagaimana kita memikirkannya, dari sisi atau segi apa kita
melihat dan memikirkannya. Mengingat bahwa filsafat berbicara mengenai yang ada
dan yang mungkin ada maka, tidak ada yang dapat membatasi pikiran kita,
sehingga tidak ada yang bisa membatasi filsafat.
Sesuatu makhluk bisa menembus ruang dan waktu itu
sangat hebat dan luar biasa. Kalau kita berpikir filsafat maka cara berpikirnya
profesional, dengan ciri-ciri berpikirnya
lebih spesifik, dapat diberi contoh, sangat mudah dengan struktur
bahasa. Melihat menembus ruang dan waktu belum ada subyek, maka perlu ditambah siapa? Maksudnya, siapa
yang menembus ruang dan waktu? Sesungguhnya tidak lain dan tidak bukan diriku,
dirimu lah yang dapat menembus ruang dan waktu, atau dirimu bagian yang mana yang
menembus ruang dan waktu. Manusia itu mempunyai dimensi yang lengkap, yaitu
dimensi material, spiritual, formal, dan normative.
Karakter menembus ruang dan waktu dalam material,
sebagai contohnya, apabila kita terjun dari pesawat menggunakan parasut, saat
itu lah kita menembus ruang dan waktu secara material dengan menggunakan
parasut. Menembus ruang dan waktu secara formal adalah dokumen (SK kenaikan
jabatan). Sedangkan pikiran ku, filsafatku menembus ruang secepat kilat, pikiran
kita bisa di Jakarta, kemudian ke Melbouren, dst begitu cepat, merupakan contoh menembus
ruanag dan waktu secara normaltif. Dalam spiritual menembus ruang dn waktu
adalah doa, kita tahu bahwa doa lebih cepat dari pikiran.
Sebuah batu menembus walaupun duduk disitu selamanya,
sadar maupun tidak sadar batu juga menembus ruang dan waktu. Batu akan
mengalami pengkikisaan karena hujan dan panas. Untuk lebih memahami makna dari
menembus ruang dan waktu, terlebih dahulu kita harus mengerti, apa yg di sebut ruang, apa yang disebut dengan
waktu dan apa yang di sebut dengan menembus?
Ruang itu dibatasi, dimensi yang mudah yaitu dimensi
nol, dimensi satu, dimensi dua, dimensi tiga, dan yan lebih suli yaitu dimensi
empat, yang ruang awam mungkin tidak dapat memikirkannya. Orang matematika
dapat menyebutkan ruang sampel, ruang acak, bangun ruang, dan sebagainya. Ruang
dalam filsafat dapat meliputi normatif, formal, material, spiritual, suami
istri, anak, dosen, mahasiswa, yang ada dan yang mungkin ada. Kemudian apa yang
disebut dengan menembus, misalnya dikenalnya diri kita di kampung mempunyai
kemampuan yg berbeda itu sebagai menembus ruang dan waktu secara formal. Apa
yang disebut dengan waktu? Imannuel Kant membagi waktu menjadi tiga, yaitu
waktu yang berurutan, berkelanjutan, dan berkesatuan. Untuk memahami waktu kita
membutuhkan ruang. Mengapa demikian? Dalam menunjukan waktu, biasanya kita
menggunakan jam, jam itulah sebagai ruang.
Metodologi menembus ruang dan waktu, yaitu (1)
pemahaman kita tentang fenomenologi (Tokohnya yaitu Husserl) menembus ruang dan
waktu (2) pemahaman tentang fondasionalism dan anti fondasionalism. Apa itu
yang dimaksud dengan fenomenologi? Fenomenologi terdiri dari idealisasi dan
abstraksi. Idealisasi adalah menganggap
sempurna yang ada. Perllu digaris bawahi, hanya mengaanggap saja, karena di
dunia ini tidak ada yang sempurna. Abstraksi, sebenar-benar manusia itu abstraksi karena manusia hanya dapat dipilih dan memilih, hanya melihat satu atau beberapa dari banyak titik dan tidak
akan bisa meihat keseluruhan dalam waktu yang bersamaan. Manusia hanya bisa
melihat apa yang ada di depan kita, dan tidak akan pernah bisa melihat apa yang
ada dibelakang mata kita. Dapat dikatakan bahwa hakikat abstraksi adalah
reduksi.
Abstraksi atau reduksi pikiran berarti tidak perlu
memikirkan apa yang tidak perlu dipikirkan. Husser sebagai salah satu tokoh
fenomenologi merumuskan sebuah tempat bernama “rumah epoke” sebagai tempat untuk menyimpan hal-hal yang tidak perlu kita pikirkan atau orang awam mengatakan “jangan diperhatikan”. Contoh jika materialnya itu ilmu, maka formalnya
adalah ilmu pengetahuan, normanya adalah logos atau filsafat, dan spiritualnya
adalah ciptaan. Kita bisa merumuskan sedemikian sehingga karena telah melalui
proses abstraksi dan idealita.
Kita dapat menerapkan rumah
epoke dalam hal berdoa. Saat kita berdoa kita tidak perlu memikirkan banyak hal
karena kuasa Tuhan telah melampaui batas pikiran kita. Tuhan tahu dan mengerti
apa yang kita butuhkan dan kita inginkan.
Tokoh dari filsafat fondasionalism dan antitesisnya
antifondasionalism adalah Brouer. Contoh kaum fondasionalism adalah semua umat
beragama karena mereka mayakini bahwa Tuhan sebagai “Causa Prima”. Inilah
fondamennya orang beragama. Selain itu, orang yang sudah menikag juga sebagai
kaum fondasionalism dengan fondamennya ijab qabul. Lalu bagaimana dengan
matematika? Semua matematikawan merupakan kaum fondasionalism karena mereka
berangkat dari menetapkan definisi, aksioma, teorema, dan lain sebagainya.
Jika kita tahu kapan kita memulai maka pastilah itu fondasionalism.
Sebaliknya jika kita tidak tahu kapan dimulainya maka itulah intuisi. Sebagai contoh, kapan kita mulai tahu jauh dan dekat, kapan kita
mulai besar dan kecil, kapan kita mulai tahu sebentar dan lama, kapan kita tahu
cinta, dan lain sebagainya. Itu semua merupakan intuisi. Jauh dan dekat, besar
dan kecil merupakan intuisi ruang, sebentar dan lama merupakan intuisi waktu.
Apa hubungan intuisi dengan pendidikan matematika? Mengapa banyak siswa yang
tidak menyukai matematika? Siswa menjadi tidak suka dengan matematika karena
siswa telah terampas intuisinya untuk belajar. Oleh karena itu, sebagai seorang
guru, siswa tidak langsung diberikan tentang definisi, akan tetapi biarlah
siswa mengembangkan intuisinya untuk mencoba menemukannya sendiri. Maka pada
hakikatnya hidup ini merupakan kontradiksi karena kita sendiri adalah
fondasionalism sekaligus antifondasionalis.
Pertanyaan:
1. Seperti yang telah kita ketahui, bahwa siswa telah
terampas intuisinya, karena guru telah member definisi dalam pembelajaran. Lalu
bagaimana sikap guru yang seharusnya dilakukan agar siswa tidak terampas
intuisinya?
2. Kapan kita menjadi kaum fondasionalism dan kapan kita
menjadi kaum anti-fondasionalism?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar