Sabtu, 19 Januari 2013

Refleksi Jawaban Mengenai Filsafat





Dari pertanyaan “Bagaimana belajar ilmu ikhlas, terkadang pada kenyataannnya susah untuk merealisasikan? Seperti yang kita ketahui bahwa memang tidak mudah untuk bersikap ikhlas. Dari pengalaman seorang mahasiswa, pengalaman seorang akademik, dapat dirasakan pengalaman social, pengalaman pribadi, pengalaman filsafat, pengalaman psikologis. Ilmu ikhlas berkaitan dengan tingkat kualitas beribadah, yang telah dituliskan dalam elegy-elegi Ritual Ikhlas. Dalam elegy-elegi Ritual Ikhlas dijalaskan macam-macamm dan prinsip-prinsip keikhlasan. Ikhlas seharusnya harus didasari dengan ikhlas hati dan ikhlas pikir. Berbicara mengenai ikhlas, berbicara mengenai diri sendiri. Dalam menjalPak Marsigitkehidupan, manusia hendaknya dilakukan berdasarkan epistomologi agama dan kepercayaan masing-masing. Misalnya epistimologi Islam untuk yang beragama Islam, epistimologi Kristen untuk yang beragama Kristen, epistimologi Katolik untuk yang beragama Katolik, dan seterusnya Estimologi sama artinya dengan metode-metode, hanya saja kata epistimologi akan lebih chemistry digunakan.  Contohnya menunaikan ibadah haji bagi kaum muslim. Atau misalnya saja dalam resepsi pernikahan, maka sambutan yang digunakan adalah kebahagian, bukan sambutan duka. Dalam kehidupan berkeluarga, hendaknya suami istri saling membantu dan melengkapi. Berpikir itu sangat bermanfaat untuk menunjang keimanan, namun keimanan itu tidak cukup hanya dengan berpikir, yang dominan adalah hati. Nilai ibadah itu meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Dalam membaca kitab suci tanpa mengetahui maknanya belum dapat dikatakan ibadah. Untuk dapat melakukan ilmu ikhlas yang terpenting adalah dengan selalu beribadah dan mendekatkan diri terhadap Tuhan.
Apakah dua sekarang dan dua di masa lalu apakah itu aritmatika sebagai proses? berpikir itu reason. Human reason itu pikiran manusia dan pengalaman manusia. Human reason hukum analitik sedangkan pengalaman itu hukumnya sintetik. Analitik itu subyek=predikat. Di dunia ini tidak pernah ada subyek=predikat, itu hanyalah di dalam pikran saja. Hanya Tuhan yang mampu menjadi subyek sekaligus predikat.maka manusia tidak pernah bisa sama dengan namanya.  Di dalam matematika subyek=obyek itu hanya saja diandaikan yang hanya mendapatkan konsistensi saja. Misal 2=2, tidak ada pernah ada di dunia, itu hanya ada di dalam pikiran kita, karena di dunia ini terikat ruang dan waktu. Dua yang sekarang tidak akan pernah sama dengan dua yang terakhir akan menjadi persoalan. Jadi aku tidak akan pernah menjadi aku selama aku di dunia ini. Maka sebenar-benarnya orang di dunia ini tidak akan pernah bisa mengetahui dirinya, hanya bisa menggapai. Untuk bisa mengetahui dirinya perlu pertolongan Tuhan. Maka cara berpikir ini bersifat kebenaran koheren, yaitu benar jika itu konsisten. Di dunia ini selalu bersifat kontradiktif, predikat tidak sama dengan subyeknya. Maksudnya dapat dicontohkan Pak Marsigitberbicara, berbicara itu bukan Pak Marsigit, berbicara hanya sifatnya. Pak Marsigit yang mana? Pak Marsigit meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Pak Marsigigit material itu, kepalanya, Pak Marsigit foramal itu tulisannya, Profesor Dr Marsigit, M.A. Pak Marsigit normative itu pikirannya. Pak Marsigit spiritual itu doa-doanya. Pak Marsigit capitalism itu untung-ruginya. Pak Marsigit ditarminism itu perintah-perintahnya. Pak Marsigit demokratis itu saran-saran atau kritik-kritik kepada dirinya. Filafat itu tidak lain tidak bukan diriku.
Dalam usaha manusia hanya mampu meraih jawaban dari yang ada dan yang mungkin ada yang berbau di dunia saja kemudian bagaimana kita dapat memahami dan mengetahui mengapa kita ada? Di dalam elegy telah dituliskan berbagai macam elegi, bukan saja elegy duniawi namun juga elegy spiritual, serpeti elegy ritual ikhlas dan sebagainya. Dan untuk perjuangan dalam keluarga dapat dibaca elegy Dewi Umaya.
Bagaimana untuk meraih intuisi? Dalam hidup ini 80-90% terdiri dari intuisi. Misaknya saja kapan kita bisa menentukan besar atau kecil. Intuisi lawan dari orang-orang yang latah membuat definisi. Tidak semua hal dan benda dapat didefinisikan. Intuisi diperoleh dengan interaksi. Saat kita tidak tahu arah mata abgin, saat itu juga intuisi kita kehilangan intuisi ruang. Untuk menenukan intuisi ruang kembaki maka haruslah menyatukan hati dan pikiran. Apabila hati dan pikiran telah menyatu maka akan timbul rasa nyaman. Intuisi sebagai produk bisa sebagai mitos. Mitos artinya tidak mengerti namun melakukannya. Maka beribadah itu dapat menjadi mitos, apabila dilakukan namun tidak mengerti maksud dan tujuannya. Misal seorang anak beribadah hanya karena mengikuti orangtuanya tanpa mengerti maksud dan tujuannnya. Namun tidak selamanya mitos itu buruk. Hampir semua anak belajar dari intuisi. Matemaika murni juga menggunakan intuisi murni. Sebagai seorang guru, haruslah mengembalikan intuisi siswa, dengan mengganti teori pembelajaran denan hakikat matematika sebagai kegiatan bukan sebagai ilmu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar