Dari pertanyaan “Bagaimana
belajar ilmu ikhlas, terkadang pada kenyataannnya susah untuk merealisasikan? Seperti
yang kita ketahui bahwa memang tidak mudah untuk bersikap ikhlas. Dari
pengalaman seorang mahasiswa, pengalaman seorang akademik, dapat dirasakan
pengalaman social, pengalaman pribadi, pengalaman filsafat, pengalaman
psikologis. Ilmu ikhlas berkaitan dengan tingkat kualitas beribadah, yang telah
dituliskan dalam elegy-elegi Ritual Ikhlas. Dalam elegy-elegi Ritual Ikhlas
dijalaskan macam-macamm dan prinsip-prinsip keikhlasan. Ikhlas seharusnya harus
didasari dengan ikhlas hati dan ikhlas pikir. Berbicara mengenai ikhlas,
berbicara mengenai diri sendiri. Dalam menjalPak Marsigitkehidupan, manusia
hendaknya dilakukan berdasarkan epistomologi agama dan kepercayaan masing-masing.
Misalnya epistimologi Islam untuk yang beragama Islam, epistimologi Kristen
untuk yang beragama Kristen, epistimologi Katolik untuk yang beragama Katolik,
dan seterusnya Estimologi sama artinya dengan metode-metode, hanya saja kata
epistimologi akan lebih chemistry digunakan. Contohnya menunaikan ibadah haji bagi kaum
muslim. Atau misalnya saja dalam resepsi pernikahan, maka sambutan yang
digunakan adalah kebahagian, bukan sambutan duka. Dalam kehidupan berkeluarga,
hendaknya suami istri saling membantu dan melengkapi. Berpikir itu sangat
bermanfaat untuk menunjang keimanan, namun keimanan itu tidak cukup hanya
dengan berpikir, yang dominan adalah hati. Nilai ibadah itu meliputi yang ada dan
yang mungkin ada. Dalam membaca kitab suci tanpa mengetahui maknanya belum
dapat dikatakan ibadah. Untuk dapat melakukan ilmu ikhlas yang terpenting
adalah dengan selalu beribadah dan mendekatkan diri terhadap Tuhan.
Apakah dua sekarang dan dua
di masa lalu apakah itu aritmatika sebagai proses? berpikir itu reason. Human
reason itu pikiran manusia dan pengalaman manusia. Human reason hukum analitik
sedangkan pengalaman itu hukumnya sintetik. Analitik itu subyek=predikat. Di
dunia ini tidak pernah ada subyek=predikat, itu hanyalah di dalam pikran saja.
Hanya Tuhan yang mampu menjadi subyek sekaligus predikat.maka manusia tidak
pernah bisa sama dengan namanya. Di
dalam matematika subyek=obyek itu hanya saja diandaikan yang hanya mendapatkan
konsistensi saja. Misal 2=2, tidak ada pernah ada di dunia, itu hanya ada di
dalam pikiran kita, karena di dunia ini terikat ruang dan waktu. Dua yang
sekarang tidak akan pernah sama dengan dua yang terakhir akan menjadi
persoalan. Jadi aku tidak akan pernah menjadi aku selama aku di dunia ini. Maka
sebenar-benarnya orang di dunia ini tidak akan pernah bisa mengetahui dirinya,
hanya bisa menggapai. Untuk bisa mengetahui dirinya perlu pertolongan Tuhan.
Maka cara berpikir ini bersifat kebenaran koheren, yaitu benar jika itu
konsisten. Di dunia ini selalu bersifat kontradiktif, predikat tidak sama
dengan subyeknya. Maksudnya dapat dicontohkan Pak Marsigitberbicara, berbicara
itu bukan Pak Marsigit, berbicara hanya sifatnya. Pak Marsigit yang mana? Pak
Marsigit meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Pak Marsigigit material itu,
kepalanya, Pak Marsigit foramal itu tulisannya, Profesor Dr Marsigit, M.A. Pak
Marsigit normative itu pikirannya. Pak
Marsigit spiritual itu
doa-doanya. Pak Marsigit
capitalism itu untung-ruginya. Pak Marsigit ditarminism itu perintah-perintahnya. Pak
Marsigit demokratis itu
saran-saran atau kritik-kritik kepada dirinya. Filafat itu tidak lain tidak bukan diriku.
Dalam usaha manusia
hanya mampu meraih jawaban dari yang ada dan yang mungkin ada yang berbau di
dunia saja kemudian bagaimana kita dapat memahami dan mengetahui mengapa kita
ada? Di dalam elegy telah dituliskan berbagai macam elegi, bukan saja elegy
duniawi namun juga elegy spiritual, serpeti elegy ritual ikhlas dan sebagainya.
Dan untuk perjuangan dalam keluarga dapat dibaca elegy Dewi Umaya.
Bagaimana untuk meraih
intuisi? Dalam hidup ini 80-90% terdiri dari intuisi. Misaknya saja kapan kita
bisa menentukan besar atau kecil. Intuisi lawan dari orang-orang yang latah
membuat definisi. Tidak semua hal dan benda dapat didefinisikan. Intuisi
diperoleh dengan interaksi. Saat kita tidak tahu arah mata abgin, saat itu juga
intuisi kita kehilangan intuisi ruang. Untuk menenukan intuisi ruang kembaki
maka haruslah menyatukan hati dan pikiran. Apabila hati dan pikiran telah
menyatu maka akan timbul rasa nyaman. Intuisi sebagai produk bisa sebagai
mitos. Mitos artinya tidak mengerti namun melakukannya. Maka beribadah itu
dapat menjadi mitos, apabila dilakukan namun tidak mengerti maksud dan
tujuannya. Misal seorang anak beribadah hanya karena mengikuti orangtuanya
tanpa mengerti maksud dan tujuannnya. Namun tidak selamanya mitos itu buruk.
Hampir semua anak belajar dari intuisi. Matemaika murni juga menggunakan
intuisi murni. Sebagai seorang guru, haruslah mengembalikan intuisi siswa,
dengan mengganti teori pembelajaran denan hakikat matematika sebagai kegiatan
bukan sebagai ilmu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar